GALAU SORE DI KANTIN KAMPUS
Sore itu, Rabu
26 September. Aku punya janji bertemu dengan kawan Eko Julianto. Kawan ini
biasa ku sapa dengan PIMPINAN EKO, karena kemampuannya melakukan konsolidasi
Liga Mahasiswa NasDem diwiliayah DKI. Sekitar jam 12 siang, aku di kontak oleh
pimpinan eko untuk ketemu dikampus jam 3 sore. Tepat waktu sepertinya, jam 3.05
aku telah tiba dikampus, dan langsung menuju kantin. Sekilas memilih tempat
duduk, lalu mengabil posisi dipojok kantin sebelah kanan. Selang beberapa saat kopi
hitam pun diantar oleh peyalan kantin. Segelas kopi panas ku seruput pelan,
bersama setengah bungkus Dji Sam Soe yang ku beli didepan kampus saat masuk
tadi.
Beberapa
saat, aku menjadi larut dalam hiruk-pikuk
suasana kampus yang dipenuhi suara dari berbagai penjuru kantin. Rasa penasaran
membuatku mulai menyimak setiap meja yang
dikerumuni mahasiswa-mahasiswi itu. Sebuah suasana yang riuh gemuruh, tak
ada pilihan lain kecuali indera pendengaranku dipaksa bekerja ekstra keras
untuk bisa menangkap setiap pembicaraan. Dari kebisingan yang menggema dikantin
kampus, pendengarankupun bisa menangkap pembicaraan dibeberapa meja
disekitarku. Kerumunan dimeja samping kananku misalnya, 5 orang mahasiswi
berdiskusi sangat serius sambil melahap nasi ayam. Setelah disimak beberapa
saat, ternyata kerumunan mahasiswa ini sibuk membahas tentang warna jilbab yang
seksi untuk ukuran tubuh mereka yang jumbo. Memang mahasiswi dimeja samping
kananku rata-rata bertubuh gempal seperti orang yang ku tunggu, PIMPINAN
EKO...hehehehe.
Tak hanya
perkara warna jilbab seksi untuk big body,
kerumunan ini penuh semangat membicarakan lagi soal NOAH yang konser di lima
negara, luar biasa kemapuan update informasi para BIG BODY ini. Beda
menja, beda cerita. Mungkin itulah pernyataan tepat untuk suasana penuh
kebisingan dikantin sore itu. Sebab tema berbeda menjadi pembahasan tiga
mahasiswa disebelah kiriku. Issue penting
dari sudut kiri ini adalah investasi.
Tiga mahasiswa ini sibuk berdebat cara memperoleh modal awal untuk membuat
usaha yang bisa membuat mereka menjadi konglomerat kelas menengah, sebelum
lulus kuliah. Sebuah cita-cita agung untuk kemakmuran dan jaminan masa depan,
luar biasa.
Lain meja,
lain cerita. Peristiwa dari meja didepanku juga tak kalah penting untuk disimak. Empat orang mahasiswi dan dua orang mahasiswa sedang bergumul disatu
meja untuk bermain. Ini bukan permainan biasa bro, PERMAINAN ini jika di
Jakarta kita temui di kost-kost’an, pos jaga dikomplek perumahan atau di warung
kopi jika dikampung, bermain POKER. Peristiwa main kartu joker ini biasa saja,
karena biasa dimainkan kalangan manapun yang tak pernah menikmati hidup diatas
garis kemiskinan. Bagi kita yang hidup dibawah garis kemiskinan, permainan
poker hingga togel adalah sebuah pengalihan dari situasi keterpurukan ekonomi
dan keterbelakangan pendidikan, dan para kerumunan mahasiswa itu bermain poker
dikantin kampus, entah mengalihkan suasana hati karena tugas tak dibuat atau galau
dengan dosen kiler, entahlah. Yang pasti kita bisa menyaksikan permainan kartu
Joker itu dikantin kampus.
Apapun cerita
dikantin kampus sore itu tak ada yang salah apalagi keliru. Setelah wacana,
debat, diksusi multi tema yang dengar dari berbagai penjuru dikantin kampus
sore itu, ada pertanyaan kecil yang tiba-tiba menggelitik hati, dan pertanyaan
itu terus menghantuiku hingga kembali ke rumah jam 6.35 jelang malam. Pertanyaan
sederhana tentang kemahasiswaan; apa yang dikau cari dikampus wahai putera-puteri
masa depan?.
Tanpa
bermaksud menjadi bekas mahasiswa yang idealis, tapi bukankah kita sama-sama
tahu bahwa kampus adalah laboratorium
sosial, tempat menciptakan intelektual organik berbasis scientific.
Bukankah mahasiswa adalah benteng terakhir pertahanan moral dari sebuah
peradaban?. Tapi sepertinya jika diteruskan, ini tak sekedar menjadi pertanyaan
sederhana, tetapi menjelma mejadi sebuah gugatan. Hingga jelang malam, segelas
kopi terisa gelas, dan kretek tersisa sebatang sementara kusulut, dan resah itu
tak terjawab hingga menjadi gelisah tak bertuan, sama seperti resah menunggu yang
ditunggu belum juga datang. Dimanakah dikau PIMPINAN EKO? Dikau biarkan aku
menjadi galau sendiri dikantin kampus, dipenuhi diskusi juga debat luar biasa
ditemani permainan kartu Joker. Dengan kegalauan yang tersisa aku hanya bisa
bilang terrrlllaaallluu... pimpinan eko (dengan gaya bang rhoma irama), lalu berjalan pulang dengan kretek yang terisa
setelah, juga galau yang kukulum membatin.
Jhoe|Jatiraya, 22092012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar