Rabu, 26 September 2012

GALAU SORE DI KANTIN KAMPUS


GALAU SORE DI KANTIN KAMPUS

Sore itu, Rabu 26 September. Aku punya janji bertemu dengan kawan Eko Julianto. Kawan ini biasa ku sapa dengan PIMPINAN EKO, karena kemampuannya melakukan konsolidasi Liga Mahasiswa NasDem diwiliayah DKI. Sekitar jam 12 siang, aku di kontak oleh pimpinan eko untuk ketemu dikampus jam 3 sore. Tepat waktu sepertinya, jam 3.05 aku telah tiba dikampus, dan langsung menuju kantin. Sekilas memilih tempat duduk, lalu mengabil posisi dipojok kantin sebelah kanan. Selang beberapa saat kopi hitam pun diantar oleh peyalan kantin. Segelas kopi panas ku seruput pelan, bersama setengah bungkus Dji Sam Soe yang ku beli didepan kampus saat masuk tadi.
Beberapa saat,  aku menjadi larut dalam hiruk-pikuk suasana kampus yang dipenuhi suara dari berbagai penjuru kantin. Rasa penasaran membuatku mulai menyimak setiap meja yang  dikerumuni mahasiswa-mahasiswi itu. Sebuah suasana yang riuh gemuruh, tak ada pilihan lain kecuali indera pendengaranku dipaksa bekerja ekstra keras untuk bisa menangkap setiap pembicaraan. Dari kebisingan yang menggema dikantin kampus, pendengarankupun bisa menangkap pembicaraan dibeberapa meja disekitarku. Kerumunan dimeja samping kananku misalnya, 5 orang mahasiswi berdiskusi sangat serius sambil melahap nasi ayam. Setelah disimak beberapa saat, ternyata kerumunan mahasiswa ini sibuk membahas tentang warna jilbab yang seksi untuk ukuran tubuh mereka yang jumbo. Memang mahasiswi dimeja samping kananku rata-rata bertubuh gempal seperti orang yang ku tunggu, PIMPINAN EKO...hehehehe.
Tak hanya perkara warna jilbab seksi untuk big body, kerumunan ini penuh semangat membicarakan lagi soal NOAH yang konser di lima negara,  luar biasa kemapuan update informasi para BIG BODY ini. Beda menja, beda cerita. Mungkin itulah pernyataan tepat untuk suasana penuh kebisingan dikantin sore itu. Sebab tema berbeda menjadi pembahasan tiga mahasiswa disebelah kiriku. Issue penting dari sudut kiri ini adalah investasi. Tiga mahasiswa ini sibuk berdebat cara memperoleh modal awal untuk membuat usaha yang bisa membuat mereka menjadi konglomerat kelas menengah, sebelum lulus kuliah. Sebuah cita-cita agung untuk kemakmuran dan jaminan masa depan, luar biasa.
Lain meja, lain cerita. Peristiwa dari meja didepanku juga tak kalah penting untuk disimak. Empat orang mahasiswi dan dua orang mahasiswa sedang bergumul disatu meja untuk bermain. Ini bukan permainan biasa bro, PERMAINAN ini jika di Jakarta kita temui di kost-kost’an, pos jaga dikomplek perumahan atau di warung kopi jika dikampung, bermain POKER. Peristiwa main kartu joker ini biasa saja, karena biasa dimainkan kalangan manapun yang tak pernah menikmati hidup diatas garis kemiskinan. Bagi kita yang hidup dibawah garis kemiskinan, permainan poker hingga togel adalah sebuah pengalihan dari situasi keterpurukan ekonomi dan keterbelakangan pendidikan, dan para kerumunan mahasiswa itu bermain poker dikantin kampus, entah mengalihkan suasana hati karena tugas tak dibuat atau galau dengan dosen kiler, entahlah. Yang pasti kita bisa menyaksikan permainan kartu Joker itu dikantin kampus.
Apapun cerita dikantin kampus sore itu tak ada yang salah apalagi keliru. Setelah wacana, debat, diksusi multi tema yang dengar dari berbagai penjuru dikantin kampus sore itu, ada pertanyaan kecil yang tiba-tiba menggelitik hati, dan pertanyaan itu terus menghantuiku hingga kembali ke rumah jam 6.35 jelang malam. Pertanyaan sederhana tentang kemahasiswaan; apa yang dikau cari dikampus wahai putera-puteri masa depan?.
Tanpa bermaksud menjadi bekas mahasiswa yang idealis, tapi bukankah kita sama-sama tahu bahwa kampus adalah laboratorium sosial, tempat menciptakan intelektual organik  berbasis scientific. Bukankah mahasiswa adalah benteng terakhir pertahanan moral dari sebuah peradaban?. Tapi sepertinya jika diteruskan, ini tak sekedar menjadi pertanyaan sederhana, tetapi menjelma mejadi sebuah gugatan. Hingga jelang malam, segelas kopi terisa gelas, dan kretek tersisa sebatang sementara kusulut, dan resah itu tak terjawab hingga menjadi gelisah tak bertuan, sama seperti resah menunggu yang ditunggu belum juga datang. Dimanakah dikau PIMPINAN EKO? Dikau biarkan aku menjadi galau sendiri dikantin kampus, dipenuhi diskusi juga debat luar biasa ditemani permainan kartu Joker. Dengan kegalauan yang tersisa aku hanya bisa bilang terrrlllaaallluu... pimpinan eko (dengan gaya bang rhoma irama),  lalu berjalan pulang dengan kretek yang terisa setelah, juga galau yang kukulum membatin.

Jhoe|Jatiraya, 22092012