Goresan
Terakhir
Entah pada rasa yang mendalam, ataukah tentang
kegelisahan tak berujung. Satu hal yang pasti; hati tak sekedar segumpal daging. Pada masa ketika semua berawal
mula, keraguan menjadi keniscayaan. Ragu menuntun hati dan pikiran menemukan kebenaran
- begitulah
Tuhan diyakini - bersumber dari keraguan. Waktu bergerak, lalu hari-hari
terlewati pada tiap hitungan detik, juga pada detak jantung dan nadi, ku harus
menghitung dengan sangat tekun setiap detail yang coba kita bangun. Lalu?
Tak ada maksud untuk meragukanmu, tak sedikitpun
tersirat keraguan untuk tak percaya padamu. Aku bergelinding “keluar” jauh dari jangkauan kesadaran,
resah mungkin tanpa alasan. Tapi resah tak muncul dengan tiba-tiba, tanpa bisa
dinalari. Seperti rasa lapar, kita menyadarinya lalu berusaha tuk meminum
segelas air, walau sekedar menahan dahaga. Lalu ada yang menjadi resah tak
berujung? Menghinggapi semua isi kepala, dan ruang-ruang hati. Situasi yang
hampir pasti, siapapun tak mungkin rasional, untuk bisa mengendalikan semuanya,
walau diriku telah berupaya untuk itu.
Telah banyak waktu dari hidup ku lewati, sedikit
banyak peristiwa yang pernah ku lalaui, bukan sesuatu yang luar biasa, ketika
kenyataan memberikan pelajaran sebagai pembelajaran tentang hidup dan kehidupan.
Tak ada upaya untuk menggurui siapa pun, sekedar upaya untuk berbagi dengan mu,
hanya itu. Karena keputusan kitalah yang mengajariku tentang apa yang akan kita
hadapi, juga apa yang harus dilakukan. Karena itu adalah salah satu jalan untuk
menyampaikan apa yang sedang, akan dan nanti dihadapi oleh setiap kita yang
memilih hidup sebagai pengabdian juga keniscayaan. Sepertinya semua yang telah
disampaikan menguap bersama angin, lalu semua yang ditulis terbang bersama
suara-suara ke angkasa tak tersisa, lalu bagaimana cara untuk mengisahkan
semuanya agar membekas dihati dan kesadaran?
Telah banyak yang kita bicarakan, terlalu banyak
yang kita nyatakan dalam kesepakatan “kita”.
Lalu tak satupun sikap yang menjadi wujud dari sekian banyak keputusan yang dibingkai
dalam kita. Lalu aku harus “bersalah” mencoba dan terus mencoba
memupuk keyakinan untuk terus membangun itu. Diwaktu bersamaan, ada ruang resah
yang terus menyesaki relung hati,
tentang ketidakpastian. Tapi baiklah,
aku percaya padamu karena cintaku.
Ini adalah goresan terakhir, bukan ancaman, bukan
teror, ini adalah ketegasan yang akan ku junjung tinggi karena cintaku padamu,
tidak lebih. Inilah satu-satunya cara untuk mengikis habis keraguan tak bertuan yang tercipta dari sikap dan tingkah lakumu, bukan
karena apa-apa. Aku mencintaimu dalam keberanian dan watak pemberontakanku. Aku mencitaimu wie, tanpa syarat apapun.
Digores pada ruang resah
Jhoe|27 Juli 2012