Begitulah
Cinta di Gores Wie…!
Demikianlah tema antologi liar
ini. Tidak ada upaya memberi kesan untuk menjadikan goresan liar ini memenuhi
syarat sebagai puisi, sajak, atau jenis karya seni tertentu. Goresan liar
adalah ekspresi, ruang tumpah atau sebuah upaya luar biasa untuk mengisi
“ruang kosong”, sebuah pengembaraan tak
berujung, dari seseorang yang terus bertahan hidup demi keyakinan perjuangan,
juga untuk seorang perempuan [Wie] yang
memilih tempat -tentunya dengan
keyakinan, juga cinta - untuk berada di sayap kiri perjuangan. Sebagai
perempuan tangguh, sebagai kupu-kupu merah kiri, sebagai Andromeda, tentunya
untuk sebuah perjuangan.
Antologi ini, tidak
dimaksudkan untuk sebuah tujuan komersial. Demi sebuah ekspresi yang tulus,
juga keikhlasan mendedikasikan goresan
liar ini untuk [Wie], maka tak layak untuk dinominalkan dalam bentuk apapun.
Karena goresan liar, mengalir bersama kenyataan, dialektika, konflik, juga
rindu. Melatari sebuah hubungan cinta,
yang terjebak pada jarak, ruang dan waktu. Selain itu, cinta juga rasa saling
memiliki tak bisa dibayar. Berapapun dikau membayar tak bisa kau beli
cintaku..!
Kepada siapapun yang entah
sengaja ataupun tidak, membaca goresan liar ini, kiranya menjadikan
pembelajaran juga pengalaman tentunya, untuk percaya bahwa keyakinan dan
keikhlasan adalah spirit perjuangan, menjadikan semua yang dibangun sebagai
harapan, juga mimpi bisa terwujud, karena rasa cinta.
Wie…, apa yang kita bangun ini
tak akan terhapus oleh situasi sesulit apapun, dan hanya maut yang bisa
memisahkan kita. Untukmu goresan liar ini ku persembahkan, karena cintaku
padamu, dan hanya itu yang kumiliki. Teruslah bergerak; kupu-kupu merah kiri
ku. Jakarta, Yogya, Ternate, Tidore, adalah tempat kita menggores luka,
kenangan, juga sejuta rasa rindu yang kita pahat bersama, dibawa pulang,
kembali bersemayam pada malam, begitulah
cinta di gores Wie…
Medio 2012
Jho’e | iblis malam |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar